Senin, 15 Juni 2015

Taksonomi Bloom

Taksonomi berasal dari dua kata dalam  bahasa Yunani yaitu tassein yang berarti  mengklasifikasi dan nomos  yang berarti  aturan.
Sejarah  taksonomi  bloom  bermula  ketika  awal  tahun  1950- an,  dalam  Konferensi Asosiasi Psikolog Amerika, Bloom dan  teman temannya  mengemukakan  bahwa  dari  evaluasi  hasil  belajar  yang  banyak  disusun  di  sekolah,  ternyata    persentase  terbanyak  butir  soal  yang  diajukan  hanya
meminta  siswa  untuk  mengutarakan  hafalan  mereka.  Konferensi  tersebut  merupakan  lanjutan  dari konferensi yang  dilakukan pada tahun 1948.  Menurut Bloom, hafalan  sebenarnya merupakan  tingkat terendah  dalam  kemampuan  berpikir  (thinking  behaviors).  Masih  banyak  level   lain  yang  lebih  tinggi  yang harus dicapai agar proses pembelajaran dapat menghasilkan siswa yang kompeten di bidangnya.
Akhirnya pada tahun 1956,  Bloom dan juga teman temannya  berhasil  mengenalkan
kerangka konsep kemampuan berpikir yang dinamakan Taxonomy Bloom.  Jadi, Taksonomi Bloom adalah struktur  hierarkhi  yang  mengidentifikasikan  skills  mulai  dari  tingkat  yang  rendah  hingga  tingkat yang  tinggi.
Namun  untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi,  level  yang rendah harus dipenuhi lebih dulu. Tujuan pendidikan oleh Bloom dibagi menjadi tiga tingkatan yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik.
1.  Ranah Kognitif
Yaitu berisi  perilaku  yang  menekankan  aspek  intelektual,  seperti pengetahuan,  dan keterampilan  berpikir. 
2.  Ranah afektif
Mencakup perilaku terkait dengan emosi, misalnya perasaan, nilai,  minat,  motivasi,  dan  sikap.
3.   Ranah  Psikomotorik
Yaitu berisi  perilaku  yang  menekankan  fungsi manipulatif  dan  keterampilan motorik  / kemampuan fisik,  berenang, dan mengoperasikan mesin. 
 Para  trainer  biasanya  mengkaitkan  ketiga  ranah  ini  dengan  Knowledge,  Skill  and  Attitude  (KSA).  Kognitif  menekankan  pada  Knowledge,  Afektif  pada  Attitude,  dan  Psikomotorik  pada  Skill.  Sebenarnya  di  Indonesia pun, kita  memiliki tokoh pendidikan,  Ki Hajar Dewantara yang terkenal  dengan   doktrinnya  Cipta, Rasa dan Karsa atau  Penalaran,  Penghayatan, dan Pengamalan. Cipta dapat diidentikkan dengan ranah kognitif , rasa dengan ranah afektif dan karsa  dengan ranah psikomotorik.
Ranah  kognitif  mengurutkan  keahlian  berpikir  sesuai  dengan  tujuan  yang  diharapkan.  Proses berpikir  menggambarkan  tahap  berpikir yang harus dikuasai  oleh siswa  agar  mampu mengaplikasikan teori kedalam perbuatan.
Ranah kognitif ini  terdiri atas enam  level, yaitu :
1.      Pengetahuan (Knowledge)
Berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi, prinsip dasar, dsb. Sebagai contoh, ketika diminta menjelaskan manajemen kualitas, orang yg berada di level ini bisa menguraikan dengan baik definisi dari kualitas, karakteristik produk yang berkualitas, standar kualitas minimum untuk produk.
2.      Pemahaman (Comprehension)
Berisikan kemampuan mendemonstrasikan fakta dan gagasan mengelompokkan dengan mengorganisir, membandingkan, menerjemahkan, memaknai, memberi deskripsi, dan menyatakan gagasan utama.
·         Terjemahan 
·         Pemaknaan 
·         Ekstrapolasi
3.      Aplikasi (Application)
Di tingkat ini, seseorang memiliki kemampuan untuk menerapkan gagasan, prosedur, metode, rumus, teori, dsb di dalam kondisi kerja. Sebagai contoh, ketika diberi informasi tentang penyebab meningkatnya reject di produksi, seseorang yg berada di tingkat aplikasi akan mampu merangkum dan menggambarkan penyebab turunnya kualitas dalam bentuk fish bone diagram.
4.      Analisis (Analysis)
Di tingkat analisis, seseorang akan mampu menganalisis informasi yang masuk dan membagi-bagi atau menstrukturkan informasi ke dalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungannya, dan mampu mengenali serta membedakan faktor penyebab dan akibat dari sebuah skenario yg rumit. Sebagai contoh, di level ini seseorang akan mampu memilah-milah penyebab meningkatnya reject, membanding-bandingkan tingkat keparahan dari setiap penyebab, dan menggolongkan setiap penyebab ke dalam tingkat keparahan yg ditimbulkan.
5.      Sintesis (Synthesis)
Satu tingkat di atas analisis, seseorang di tingkat sintesa akan mampu menjelaskan struktur atau pola dari sebuah skenario yang sebelumnya tidak terlihat, dan mampu mengenali data atau informasi yang harus didapat untuk menghasilkan solusi yg dibutuhkan. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas mampu memberikan solusi untuk menurunkan tingkat reject di produksi berdasarkan pengamatannya terhadap semua penyebab turunnya kualitas produk.
6.      Evaluasi (Evaluation)
Dikenali dari kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan, metodologi, dsb dengan menggunakan kriteria yang cocok atau standar yg ada untuk memastikan nilai efektivitas atau manfaatnya. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas harus mampu menilai alternatif solusi yg sesuai untuk dijalankan berdasarkan efektivitas, urgensi, nilai manfaat, nilai ekonomis, dsb.
Ranah Afektif tersusun atas 5 domain, yaitu :
1.  Penerimaan (Receiving/Attending)
Kesediaan untuk menyadari adanya suatu fenomena di lingkungannya. Dalam pengajaran bentuknya berupa mendapatkan perhatian, mempertahankannya, dan mengarahkannya.
2.  Tanggapan (Responding)
Memberikan reaksi terhadap fenomena yang ada di lingkungannya. Meliputi persetujuan, kesediaan, dan kepuasan dalam memberikan tanggapan.
3.  Penghargaan (Valuing)
Berkaitan dengan harga atau nilai yang diterapkan pada suatu objek, fenomena, atau tingkah laku. Penilaian berdasar pada internalisasi dari serangkaian nilai tertentu yang diekspresikan ke dalam tingkah laku.
4.  Pengorganisasian (Organization)
Memadukan nilai-nilai yang berbeda, menyelesaikan konflik di antaranya, dan membentuk suatu sistem nilai yang konsisten.
5.  Karakterisasi Berdasarkan Nilai-nilai (Characterization by a Value or Value Complex)
Memiliki sistem nilai yang mengendalikan tingkah-lakunya sehingga menjadi karakteristik gaya-hidupnya.
Ranah  Psikomotor terdiri dari 7 domain, yaitu :
1.     Persepsi (Perception)
Penggunaan alat indera untuk menjadi pegangan dalam membantu gerakan.
2.    Kesiapan (Set)
Kesiapan fisik, mental, dan emosional untuk melakukan gerakan.
3.    Guided Response (Respon Terpimpin)
Tahap awal dalam mempelajari keterampilan yang kompleks, termasuk di dalamnya imitasi dan gerakan coba-coba.
4.    Mekanisme (Mechanism)
Membiasakan gerakan-gerakan yang telah dipelajari sehingga tampil dengan meyakinkan dan cakap.
5.    Respon Tampak yang Kompleks (Complex Overt Response)
Gerakan motoris yang terampil yang di dalamnya terdiri dari pola-pola gerakan yang kompleks.
6.    Penyesuaian (Adaptation)
Keterampilan yang sudah berkembang sehingga dapat disesuaikan dalam berbagai situasi.
7.    Penciptaan (Origination)
Membuat pola gerakan baru yang disesuaikan dengan situasi, kondisi atau permasalahan tertentu.

keep spirit !!!!!!!



Malas kok dipelihara…. Apa gunanya?

Malas adalah suatu sifat dimana kita hanya diam, tak mau melakukan tindakan apapun, kita hanya pasif menerima jalannya hidup ini layaknya tenangnya aliran arus air sungai.
Apa akibatnya kalau kita memelihara kemalasan?
Akibat kalau kita memelihara rasa malas sangatlah merugikan diri kita sendiri. Kenapa? Karena orang yang malas sama aja orang yang hidup tak berguna. Karena orang malas tidak akan bisa meraih apa yang mereka inginkan, orang malas tak akan pernah bisa menghasilkan apa-apa, orang malas juga identik tidak disegani orang lain. Jangankan orang lain, Negara kita pun tidak senang dengan seseorang yang pemalas, Negara kita butuh orang-orang yang punya rasa semangat tinggi dengan sifat optimisnya yang menggebu-gebu, bukankah manusia hidup harus ada gunanya, oleh karena itu kita harus jajah rasa malas pada diri kita, yakinlah dengan niat dan tekad yang kuat rasa malas itu bakal luluh dari diri kita.
Jujur saya sendiri untuk memulai menulis artikel ini juga sangat berat sekali. Lantas bagaimana saya menyikapinya?
Saya memaksakan diri untuk memulai, awalnya saya juga penuh dengan rasa ketidakyakinan, tapi setelah dipikir-pikir kenapa tidak yakin? tidak yakin hanya membuat diri saya hanya diam ditempat, tidak akan pernah maju, dan saya sadar jika saya malas maka saya akan tertinggal jauh dengan mereka-meraka yang sudah jauh berlari. Tuhan telah memberikan otak kepada manusia untuk berfikir bukan untuk hanya diam.
Ketika rasa malas mulai tumbuh saya selalu motivasi diri dengan mengingat pesan kedua orang tua saya, beliau selalu berjuang untuk kita, beliau selalu nuruti apa yang kita inginkan dan harusnya dengan fasilitas yang  mereka berikan kita bisa memanfaatkan untuk media pembelajaran, untuk mencari hal-hal yang bermanfaat agar bisa membuat diri kita jauh dari rasa malas dan tentunya bisa lebih membuat diri kita bermanfaat. Ingatlah kedua orangtua kita  yang selalu menanti kesuksesan kita.
Untuk menghadapi rasa malas ada baiknya kita membikin jadwal kegiatan sehari-hari, supaya tujuan kita untuk meraih apa yang kita inginkan juga bisa terarah. Jadwal kegiatan yang habis kita bikin pada awalnya memang sulit untuk dijalani, kembali lagi pada rasa “paksaan” itulah kunci kita untuk bebas dari rasa malas. kita paksakan diri kita untuk runtut menjalankan sesuai jadwal kegiatan yang telah kita bikin, lama kelamaan juga kita akan terbiasa dengan jadwal kegiatan itu.
Dengan menjalankan langkah tersebut semoga dapat membantu dan memotivasi kita untuk bisa menjajah rasa malas yang ada pada diri kita semua.